Makassar butuh pemimpin berpegang teguh Siri’Na Pacce

Penulis: Chaerul Ichsan Fadly, Penggiat Kajian Politik Makassar

SEPERTI biasa, pemilihan kepala daerah (Pilkada) selalu menjadi topik yang ramai diperbincangkan. Menjadi hot isu yang diobrolkan di warung-warung kopi, kafe-kafe, forum-forum diskusi sampai media sosial.

Tahun ini, akan digelar Pilkada serentak di 270 daerah tersebar di Indonesia. Tepatnya, sembilan pemilihan gubernur, 224 pemilihan bupati dan 37 pemilihan walikota. Salah satunya, di Kota Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Sayangnya, tak semua perbincangan, perdebatan, bicara tentang bagaimana menata kehidupan yang lebih baik ke depan. Situasinya masih sama, justru kebanyakan masih berkutat seputar ujaran kebencian, cacian saling menjatuhkan antar calon yang satu dengan calon  lainnya, sampai-sampai antar-sesama pendukung.

Kondisi ini memicu pertanyaan? Apakah masyarakat Kota Makassar belum siap berdemokrasi? Sementara kita tahu, keberhasilan praktik dari sebuah demokrasi sangat ditentukan oleh manusianya. Pilkada serentak tahun ini seharusnya menjadi pintu masuk agar kita semua, khususnya di Makassar membangun demokrasi yang berkualitas, agar senantiasa menghasilkan pemimpin-pemimpin di daerah yang representatif bagi kepentingan masyarakat di daerah yang dipimpinnya.

Saya pribadi sangat prihatin melihat situasi ini, sebab dari tahun ke tahun yang menjadi barometer kesuksesan seorang pemimpin, dimanapun termasuk di Kota Makassar adalah pembangunan. Ini bertolak belakang dengan kondisi di Makassar sendiri yang masyarakatnya masih banyak hidup dalam kemiskinan.

Pemandangan maraknya gedung-gedung tinggi, seakan-akan menutupi masih adanya masyarakat yang tidak memiliki tempat tinggal. Untuk apa infrastruktur jalan bagus, tetapi banyak orangtua yang tidak mampu menyekolahkan anaknya, dan lainnya.  Kembali ke soal calon pemimpin Makassar, saya pribadi masih punya harapan ke depan haruslah sosok yang memegang teguh prinsip – falsafah Siri’ Na Pacce.

Dalam berbagai literatur disebutkan “Siri’ji nanimmantang attalasa’ ri linoa, punna tenamo siri’nu matemako kaniakkangngami angga’na olo-oloka,” hanya karena rasa malu kita bisa hidup di dunia ini, jika rasa malu sudah hilang maka lebih baik mati, karena engkau tak berarti lagi sama sekali, bahkan binatang lebih berharga dibanding dirimu; kira-kira demikian artinya.

Falsafah inilah yang diajarkan kepada saya untuk diyakini dalam menjalankan kehidupan sehari-hari yang menjadi budaya siri’ na pacce. Secara terminologi, Siri’ berarti rasa malu – harga diri, sementara Pacce diartikan pedih – pedas – keras – kokoh pendirian. Jadi bisa dimaknai sebagai semacam kecerdasan emosional – kepekaan untuk merasakan kepedihan atau kesusahan orang lain.

Jika semua calon pemimpin berpegang teguh pada prinsip ini, saya yakin hal itu mampu berdampak terhadap perilaku orang yang menganutnya. Dalam konteks pemimpin mungkin lebih rigid dijelaskan ada yang namanya “Siri’ Tappela’ Siri” – Makassar, atau “ Siri’ Teddeng Siri” – Bugis, yang diartikan rasa malu seseorang itu bakal hilang karena sesuatu hal. Contohnya, ketika seseorang memiliki utang atau telah berjanji untuk berusaha sekuat tenaga menepati janjinya. Jika tidak mampu menepati janjinya, maka dia mempermalukan dirinya sendiri.

Kemudian ada “Siri Mate Siri” adalah Siri’ yang dikaitkan dengan keimanan seseorang. Orang yang matte siri’na, orang yang di dalam dirinya sudah tidak ada rasa malu (iman) biar sedikitpun. Orang yang seperti ini dianggap sebagai bangkai yang hidup.

Dari penjelasan tadi, siri’na pacce bagi masyarakat Sulsel harus dipraktikkan dalam pola tingkah laku, berpikir, bertindak membangun dirinya menjadi seorang manusia, juga dalam hal berhubungan dengan manusia (masyarakat). Mereka terjalin, saling mengisi dan tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.

Siri’ ketika melihat masyarakat yang hidup jauh dari taraf layak, Pacce ketika melihat generasinya yang tak mampuh merasakan pendidikan yang layak. Makassar tidak butuh pemimpin yang selalu membanggakan pembangunan, Makassar tidak butuh pemimpin yang selalu mengagungkan kapitalisme.

Ini Makassar, kota yang harus dipimpin oleh mereka yang berjiwa kesatria bukan mereka yang bermental pecundang. “Punna stanngah-stanngahko assulukko, punna tojeng-tojengko paentengi siri’ na paccenu,” – jika kau tak bersungguh-sungguh maka keluarlah, jika kau bersungguh-sungguh maka pegang teguhlah harga diri dan kehormatanmu sebagai orang Makassar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s